Perhitungan Lengkap Rekalkulasi Bunga BRI

BRI sejak beberapa tahun terakhir menerapkan skema rekalkulasi bunga bagi nasabah yang ingin melakukan penutupan atau pelunasan pinjaman lebih awal dari waktu angsuran. Rekalkulasi bunga ini berdampak pada membengkaknya jumlah pelunasan yang harus dibayarkan kepada BRI.

Hal tersebut dikarenakan BRI menggunakan skema suku bunga efektif ketika nasabah melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo bukan bunga flat murni seperti yang dibayangkan kebanyakan nasabah. Masalahnya sejak awal pihak BRI tidak transparan dengan mekanisme rekalkulasi bunga. Hampir dipastikan marketing BRI kurang (atau tidak mau) memberi pemahaman kepada peminjam tentang aturan pelunasan awal ini.

Tentu saja nasabah yang mengajukan pelunasan awal dari jatuh tempo akan terkejut luar biasa ketika disodori jumlah dana yang harus dibayarkan. Jika nasabah menanyakan dari mana perhitungan tersebut, kebanyakan pihak BRI akan menjawab seragam (sesuai instruksi?) bahwa perhitungan tersebut by sistem.

BRI berargumen skema rekalkulasi bunga tersebut mengacu pada ketentuan Bank Indonesia bahwa pencatatan akuntansi harus sesuai dengan PSAK (Pedoman Standar Akuntansi Keuangan) 50/55. Kebijakan ini makin mendapatkan angin segar karena adanya keputusan dari MA yang memenangkan BRI ketika ada nasabah yang menuntut BRI soal rekalkulasi bunga. Artinya BRI semakin merasa punya pijakan legalitas yang kuat untuk terus melanjutkan kebijakan ini.

Sedihnya bagi peminjam, rekalkulasi bunga ini juga berlaku untuk top up pinjaman bukan hanya untuk pelunasan saja . Selain membayar pokok pinjaman, debitur juga terkena rekalkulasi bunga sebelum mendapatkan pinjaman baru. Dengan kata lain tidak banyak alternatif pilihan bagi nasabah BRI yang terlanjur meminjam selain melanjutkan kredit sampai selesai jatuh tempo.

Berikut ini akan dijelaskan soal perhitungan rekalkulasi bunga BRI dan mengapa sisa bunga yang dibayarkan sedemikian mengejutkan?

Kuncinya rekalkulasi bunga adalah konversi suku bunga flat ke bunga efektif per tahun. Perhitungan konversi bunga ini bisa memakai rumus excel atau menggunakan website simulasi kredit.

Sebagai contoh pagu pinjaman Rp 100.000.000 dengan bunga flat 1% perbulan atau 12% per tahun jika dikonversikan ke bunga efektif didapatkan angka sebagai berikut:






Perhitungan angsuran, bunga dengan sistem bunga flat 
(Sewaktu pertama kali meminjam dijelaskan skema seperti ini)



Perhitungan angsuran, bunga dengan sistem bunga efektif

(Sewaktu pelunasan BRI memakai sistem ini)

Dari dua tabel diatas didapatkan rekalkulasi bunga yang harus dibayarkan nasabah yang melakukan pelunasan sebelum jatuh tempo. Rekalkulasi ini menghitung akumulasi selisih antara sistem bunga efektif dengan bunga flat, dengan hasil sebagai berikut:


Keterangan:
  • Pelunasan bulan 1: akumulasi bunga bulan 1
  • Pelunasan bulan 2: akumulasi bunga bulan 1 dan 2
  • Pelunasan bulan 3: akumulasi bunga bulan 1, 2, dan 3
  • Pelunasan bulan 4: akumulasi bunga bulan 1, 2, 3 dan 4
  • Pelunasan bulan 5: akumulasi bunga bulan 1, 2, 3, 4 dan 5 dst
Sehingga jumlah bunga yang harus dibayarkan ketika melunasi bulan ke-5 sebesar Rp3.370.919,53. Jika melunasi pada bulan 10 bunga yang ditanggung naik mencapai Rp 5.323.608,61. Pelunasan pada bulan 16 maka bunga yang dibayarkan sebesar Rp4.846.046,28.

Perhitungan rekalkulasi bunga ini jika digambarkan akan membentuk kurva gunung. Ketika pelunasan sebelum jatuh tempo dilakukan pada bulan-bulan awal atau akhir, rekalkulasi bunganya semakin kecil. Tapi ketika semakin ke tengah maka rekalkulasinya semakin besar.



0 comments:

Post a Comment